020. Qs. Thaahaa : 21-40

021. (Allah berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut) kepadanya (Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya) lafal Siiratahaa dinashabkan dengan mencabut huruf Jarnya, maksudnya ke dalam bentuknya (yang semula) kemudian Nabi Musa memasukkan tangannya ke mulut ular besar itu, maka kembalilah kepada keadaan semula yaitu menjadi tongkat lagi. Jelaslah bahwa tempat untuk memasukkan tangannya adalah tempat pegangan tongkat, yaitu di antara kedua rahang ular tersebut. Allah swt. sengaja memperlihatkan hal itu kepada Nabi Musa, supaya ia jangan kaget bila tongkat itu berubah menjadi ular besar di hadapan raja Firaun nanti.

022. (Dan kepitkanlah tanganmu) yang sebelah kanan, yang dimaksud adalah telapak tangannya (ke ketiakmu) yakni dijepitkan pada tubuhmu yang sebelah kiri, yaitu pada tempat antara ketiak dan lenganmu, kemudian keluarkanlah ia (niscaya ia keluar) dalam keadaan berbeda dengan warna kulit yang sebelumnya, yaitu (menjadi putih cemerlang tanpa cacat) putih bersinar dengan cemerlang sebagaimana sinar matahari, dan sinarnya itu menyilaukan pandangan mata (sebagai mukjizat yang lain) tangan itu bisa menjadi putih bersinar; lafal Baidhaa'a dan lafal Aayatan Ukhraa keduanya menjadi Hal atau kata keterangan keadaan bagi Dhamir yang terkandung di dalam lafal Takhruj.

023. (Untuk Kami perlihatkan kepadamu) Kami sengaja melakukan hal itu bilamana kamu sewaktu-waktu mau menggunakannya, untuk memperlihatkan kepadamu (sebagian tanda-tanda kekuasaan Kami) bukti kekuasaan Kami (yang sangat besar) bukti yang besar bagi kerasulanmu. Apabila Nabi Musa hendak mengembalikan tangannya seperti semula, maka ia mengepitkannya lagi pada ketiaknya seperti yang dilakukannya semula, kemudian mengeluarkannya kembali.

024. (Pergilah) sebagai seorang Rasul (kepada Firaun) dan orang-orang yang mengikutinya (sesungguhnya ia telah melampaui batas)" sangat keterlaluan di dalam kekafirannya, hingga ia berani mengaku menjadi tuhan.

025. (Berkata Musa, "Ya Rabbku! Lapangkanlah untukku dadaku,) maksudnya lapangkanlah dadaku supaya mampu mengemban risalah-Mu.

026. (Dan mudahkanlah) permudahlah (untukku urusanku) supaya aku dapat menyampaikannya.

027. (Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku) keadaan ini terjadi sejak lidahnya terbakar bara api yang ia masukkan ke dalam mulutnya sewaktu masih kecil.

028. (Supaya mereka mengerti) yakni dapat memahami (perkataanku) di waktu aku menyampaikan risalah kepada mereka.

029. (Dan jadikanlah untukku seorang pembantu) orang yang membantuku di dalam menyampaikan risalah-Mu (dari keluargaku).

030. (Yaitu Harun) lafal Haaruna menjadi Maf'ul Tsani (saudaraku) lafal Akhii menjadi 'Athaf Rayan.

031. (Teguhkanlah dengan dia kekuatanku) kemampuanku.

032. (Dan jadikanlah ia sekutu dalam urusanku) yakni ikut mengemban risalah ini. Kedua Fi'il tadi yaitu Usydud dan Asyrik dapat pula dibaca sebagai Fi'il Mudhari' yang dijazamkan sehingga menjadi Asydud Bihi dan Usyrik-hu, keduanya merupakan Jawab dari Thalab atau permintaan.

033. (Supaya kami dapat bertasbih kepada-Mu) yakni melakukan tasbih (dengan banyak).

034. (Dan dapat mengingat-Mu) berzikir kepada-Mu (dengan banyak pula).

035. (Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui keadaan kami)" Maha Mengetahuinya, oleh sebab itu maka Engkau akan memberikan nikmat-Mu kepadaku dengan mengangkat Harun menjadi Rasul.

036. (Allah berfirman, "Sesungguhnya telah dikabulkan permintaanmu, hai Musa) sebagai anugerah Kami kepadamu.

037. (Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain).

038. (Yaitu ketika) lafal Idz di sini mengandung makna Ta'lil (mengilhamkan kepada ibumu) di dalam mimpi, atau berupa inspirasi, yaitu sewaktu ibumu melahirkan dirimu, dan ia merasa khawatir Firaun akan membunuhmu bersama-sama dengan anak-anak lelaki lainnya yang baru dilahirkan saat itu (suatu yang diilhamkan") mengenai urusanmu. Selanjutnya dijelaskan ilham tersebut dalam firman selanjutnya:

039. (Yaitu, "Letakkanlah ia) tarohlah ia (di dalam sebuah peti, kemudian lemparkanlah ia) yakni peti itu (ke sungai) yakni sungai Nil (maka pasti sungai itu membawanya ke tepi) ke pinggirnya. Kata perintah di sini mengandung makna kalimat berita (supaya diambil oleh musuh-Ku dan musuhnya) yaitu raja Firaun. (Dan Aku telah melimpahkan) sesudah Firaun mengambil anakmu darimu (kepadamu kasih sayang yang datang daripada-Ku) supaya semua orang merasa kasih sayang kepadamu, lalu Firaun akan merasa sayang kepadamu, demikian pula setiap orang yang melihatmu (dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku) kamu dipelihara di bawah asuhan dan penjagaan-Ku.

040. (Yaitu ketika) lafal Idz di     sini bermakna Ta'lil (saudaramu yang perempuan berjalan) namanya Maryam     untuk menyelidiki beritamu. Karena sesungguhnya Firaun dan keluarganya telah     mendatangkan orang-orang perempuan yang menyusui, sedangkan kamu tidak mau     menerima air susu seorang pun di antara mereka (lalu ia berkata, 'Bolehkah     saya menunjukkan kepada kalian orang yang akan memeliharanya?') kemudian     usulnya itu ternyata diperkenankan oleh keluarga Firaun, maka segera Maryam     mendatangkan ibunya, lalu Nabi Musa mau menerima air susunya. (Maka Kami     mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya) karena bertemu kembali     denganmu (dan tidak berduka cita) sejak saat itu. (Dan kamu pernah membunuh     seorang manusia) yaitu seorang bangsa Qibti di Mesir. Maka kamu merasa susah     dan khawatir setelah membunuh orang itu terhadap pembalasan raja Firaun (lalu     Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa     cobaan) Kami telah mengujimu dengan beberapa cobaan selain dari peristiwa     itu, kemudian Kami selamatkan pula kamu daripadanya (maka kamu tinggal     beberapa tahun) yakni selama sepuluh tahun (di antara penduduk Madyan)     sesudah kamu datang ke tempat itu dari negeri Mesir, yaitu kamu tinggal di     tempat Nabi Syuaib yang kemudian ia mengawinkanmu dengan putrinya (kemudian     kamu datang menurut waktu yang ditetapkan) di dalam ilmu-Ku dengan membawa     risalah, yaitu dalam usia empat puluh tahun (hai Musa!)