02. Al Baqarah (Lembu Betina)

Surat 2 : 286 ayat Diturunkan di MADINAH

Surat yang kedua ini bernama surat "al-Baqarah" yang berarti lembu betina, karena ada kisah tentang Bani Israil disuruh oleh Nabi Musa a.s. mencari seekor lembu betina akan disembelih, yang tersebut pada ayat 67 sampai 74. Adapun nama surat-surat al­Qur'an bukanlah sebagai judul dari satu rencana atau nama dari satu buku yang menerangkan suatu hal yang khas, hanyalah sebagai tanda belaka dari surat yang dinamai itu, dan bukan karena nama itu lebih penting dari yang lain yang diuraikan di dalamnya, karena semuanya penting. Yang menentukan nama-nama ini adalah Rasulullah s.a.w sendiri dengan petunjuk Jibril as.

Surat al-Baqarah adalah surat yang paling panjang di antara 114 surat dalam al-Qur'an, mengandung 286 ayat yang panjang-panjang, mengandung 2 juz berlebih sepertiga dari al-Qur'an. Diturunkan di Madinah.

Untuk meresapkan perasaan membaca Surat al-Baqarah ini hendaklah kita ingat bahwa sebagian besar daripada ayatnya diturunkan pada mula-mula Rasulullah s.a.w. pindah (hijrah) ke Madinah. Mula-mula mendirikan masyarakat Islam setelah 13 tahun menegakkan akidah di Mekkah, dan mendapat tantangan hebat dari kaum Quraisy. Sekarang telah dapat menegakkan cita dengan bebas , karena kesediaan kaum Anshar menyambut Iman dan Rasul. Maka mulai dari hari pertama beliau datang ke Madinah, nama negeri itu ditukar dari nama lama, Yatsrib atau Thibah menjadi Madinah atau lebih tegas lagi Madinatul-Rasul, Kota Utusan Tuhan .

Secara berfikir kenegaraan modern, dengan pergantian nama negeri dari Yatsrib kepada Madinah itu, maklumlah kita bahwa suatu kekuasaan telah berdiri, hanya tinggal menunggu pengakuan. Dan dapat pula hal ini kita persambungkan dengan sariyah atau patroli yang selalu beliau kirimkan ke luar kota Madinah, untuk menjaga dan mengawasi kalau-kalau ada serangan musuh .

Bersamaan dengan penukaran nama negeri itu, didirikan pula sebuah masjid. Dari masjid itulah diatur ibadat dan mu'amalat dan keputusan hukum dan diterima tamu-tamu dari luar negeri dan diatur siasat perang dan damai.

Meskipun telah terlepas daripada tantangan kaum musyrikin Quraisy yang di Mekkah, dan meskipun telah dapat menyusun kekuatan Islam dan melancarkan hukumnya, di Madinah mulailah berhadapan dengan kaum Yahudi, yang telah duduk di negeri itu sejak beratus tahun, setelah terjadi berkali-kali pengusiran raja-raja Romawi atas mereka dari Palestina. 

Mereka merasa bahwa kelas mereka lebih tinggi dari penduduk Arab asli yang tinggal di negeri itu, yang umumnya dari persukuan Aus dan Khazraj, sebab mereka merneluk agama Tauhid, mempunyai Kitab Taurat dan kedatangan berpuluh Nabi di jaman dahulu. Kepada orang-orang Arab penduduk ash An kerap mereka membanggakan tentang kepercayaan mereka, dan di masa itu sudah mulai ada perasaan bagi mereka bahwa mereka adalah umat pilihan Tuhan. Pernah juga mereka menyebut kepada orang Arab itu bahwa Kitab Taurat mereka ada menyebut bahwa akan datang lagi seorang Rasul yang akan menyempurnakan hukum Taurat.

Orang-orang Arab Aus dan Khazraj itu, keturunan dari Arab Qahthan yang datang terpencar dari Arabia Selatan setelah runtuh kerajaan Saba', kerapkali mereka merasa rendah diri mendengar cerita cerita kebanggaan orang-orang Yahudi itu, yang mencap mereka tidak berperadaban, tidak mempunyai anutan yang tertentu dan hanya menyembah berhala. Perkataan-perkataan orang Yahudi inilah yang sebagian besar mendorong mereka, bila mereka telah mendengar bahwa seorang Nabi telah lahir di Mekkah, mereka datang sembunyi­sembunyi mempelajari bagaimana keadaan Nabi itu yang sebenarnya. Mereka datang sembunyi karena takut dimusuhi oleh orang Quraisy sendiri dan merahasiakannya juga dari orang Yahudi yang selalu menyebut kedatangan Nabi itu.

Akhirnya rnenjadi kenyataanlah bahwa Rasulullah pindah ke Madinah, diiringkan oleh kaum Muhajirin dari Mekkah dan disambut oleh orang Arab yang mereka pandang hina itu, yang mereka diberi gelar kehormatan oleh Rasulullah yaitu Anshar, pembela atau penolong Nabi , pembela atau penolong Islam .

Dengan siasat yang baik sekali , mulai saja pindah ke Madinah , Rasulullah telah membuat berbagai perjanjian dengan kaum Yahudi itu , agar bertetangga dengan baik , akan sama mempertahankan negeri Madinah jika dia diserang dari luar, dan mereka disebut Ahlul-Kitab, tidak disamakan pandangan kepada mereka dengan pandangan kepada kaum musyrikin, melainkan diperlakukan dengan hormat. 

Tetapi kian lama kian nyata bahwa perjanjian-perjanjian bertetangga baik itu tidaklah mereka junjung tinggi. Mereka kian lama kian menunjukkan sikap angkuh, merasa diri lebih, menentang, menguji Nabi dan menghina Islam. Maka kita dapatilah dalam Surat al­Baqarah ini ayat-ayat yang telah mulai menghadapi mereka, yang dalam bahasa sekarang disebut konfrontasi. Tetapi dasar dari tantangan itu ialah menyadarkan mereka pokok ajaran Tauhid dan mengingatkan pertolongan-pertolongan yang telah diberikan Illahi kepada mereka. Dan memperingatkan pula bahwa ajaran yang dibawa Muhammad ini bukanlah memusuhi Yahudi, tetapi sambungan dari usaha Rasul­rasul yang dahulu, bahwasanya baik Yahudi dan Nasrani, atau ajaran yang dibawa Muhammad sekarang, hanya satu saja rumpun asalnya, yaitu agama "Menyerah diri kepada Allah", yang telah dimulai oleh nenek-moyang mereka Ibrahim a.s.. Ibrahimlah yang menurunkan Ishak dan Ya'qub yang menimbulkan Bani Israil. Dan Ibrahim pula yang beranak Ismail, lalu menurunkan Muhammad s.a.w dan Arab Mustaribah. Kedatangan Muhammad ialah mengajak semua supaya kembali kepada agama " Menyerah diri kepada Tuhan " ajaran Ibrahim itu , yang dalam bahasa Arabnya disebut ISLAM.

Disamping soal menghadapi Yahudi ini timbul lagi soal lain, yaitu Arab penduduk Madinah sendiri yang merasa diri mereka 
" dilangkahi " tersebab kedatangan Rasulullah ke Madinah. Selama ini pimpinan atau leadership dipegang oleh mereka, tetapi sejak Rasulullah s.a.w datang, mereka merasa tersingkir. Akan dihadapi secara kasar, ternyata telah kalah sebab pandangan orang ramai (opini publik) telah menerima Rasulullah. Inilah yang menjadi kaum munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubai. Kaum munafik inipun menjadi "penyakit"dalam tubuh masyarakat Islam. Dihadapan, mereka mengakui beriman, dibelakang mereka mencemooh, dan berusaha dalam segala kesempatan untuk menghambat terbentuknya kekuatan Islam. Kalau perlu dan ada keuntungan, merekapun sudi berkawan dengan kaum Yahudi itu. Dan kalau ada serangan dari pihak Quraisy, mereka dengan sembunyi-sembunyi menyatakan persetujuan.
Adapun orang Quraisy di Mekkah sendiri, berpindahnya Rasulullah s.a.w ke Madinah adalah sangat mencemaskan mereka.

Sebab sudah terang bahwa Muhammad di Madinah akan kuat dan teguh. Merekapun lalu menyusun terus kekuatan buat memberantas Islam yang mulai tumbuh di Madinah itu, dan kabilah-kabilah Arab di War Mekkah dan Madinah, karena masih menganggap kaum Quraisy pimpinan mereka, maka merekapun turut menentang Muhammad.

Itulah tiga front yang dihadapi di Madinah pada masa itu. Tentu saja di antara ketiga front itu, front Yahudilah yang lebih meminta perhatian, lebih dari yang lain. Dalam kepercayaan Islam, mereka itu berpokok dalam satu ajaran Tuhan. Tetapi keagamaan mereka sudah rnembeku, sudah jumud, karena diselubungi oleh adat dan pengaruh, dan sudah nyata pula bahwa kitab Taurat yang suci itu sudah banyak berubah, baik dirubah dengan sengaja ataupun karena telah hilang naskahnya yang ash. Memang sudah sangat lama Taurat yang asli itu tidak ada lagi. Mereka ini diseru diinsafkan dan kalau mereka menentang, dijawab tantangan itu dengan setimpal.

Lantaran itu maka soal-soal membuka kecurangan dan ketidak jujuran Yahudi lalu mengajak mereka kepada jalan yang benar, banyak terdapat dalam surat al-Baqarah ini. Dan terdapat pula membuka kecurangan kaum munafik.
Tetapi sementara xnenghadapi yang diluar , maka pembangunan agama dari dalam pun berjalan dengan Iancar. 
Di surat al-Baqarah bertemulah ayat-ayat berkenaan dengan rumah tangga, perkawinan dan perceraian. 

Bertemu peraturan mengerjakan Haji, mengerjakan puasa dan mengeluarkan zakat. Dan mencela keras memakan riba. Memben.tukbudipekerti dengan memperbanyak derma clan sedekah. Dan satu peraturan yang terpenting di dalam surat al-Baqarah ialah mengalihkan kiblat dari Baitul Maqdis ke Mekkah, dengan ini Islam mendapat pribadinya. Feraturan ini didahului dengan kisah Nabi Tbrahim a.s. dan putranya Ismail a. s., diperintahkan'Tuhan mendirikan Baitullah. Dengan peralihan kiblat orang dapat mengerti bahwa Muhammad bukan membawa peraturan baru asal mengganjil saja, tetapi menghidupkan kembali sunnah Nabi Ibrahim a. s.

Dan dalam surat al-Baqarah sudah mulai diadakan perintah Jihad, kebolehan berperang di dalam mempertahankan akidah.
Banyak lagi surat-surat yang lain diturunkan di Madinah , tetapi Surat al-Baqarah adalah termasuk surat yang terdahulu sekali , meskipun ada juga beberapa ayat yang kemudian datangnya, dimasukkan ke dalam susunan Surat al-Baqarah karena hubungan isinya.

Dalam pada itu terdapatlah di Surat ini pembangunan jiwa kaum mukminin di dalam memegang teguh agama, menegakkan budi dan menyebarkan dakwah.

1. Supaya mempunyai kesungguh-sungguhan dan memberikan teladan yang baik yang akan ditiru orang.
2. Kesanggupan menegakkan dalil dan alasan bahwa golongan yang tidak menyetujui ajaran Islam, adalah pada pendirian yang salah.
3. Jangan merasa lemah dan hina karena kemiskinan atau karena berpindah dari tempat kelahiran ke tempat yang baru, karena mereka pindah adalah karena dibawa cita-cita. Dan jangan gentar menghadapi bahaya.
4. Bersiap dan berwaspada terus, sedia senjata dan berani menghadapi bahaya, karena mereka selalu dalam kepungan musuh.
5. Kuatkan hati, perdalam pengertian tentang iman dan perhebat hubungan dengan Allah dengan melakukan ibadat dan takwa ; sehingga kikis dari diri sendiri dan dari masyarakat segala kebiasaan jahiliah yang telah lalu.
6. Dirikan rumahtangga yang baik, persuami-istrian yang tentram dan alirkan pendidikan kepada anak, dan sebarkan cinta kepada sesama manusia, kepada keluarga terdekat, anak yatim dan orang fakir miskin.

Inilah beberapa intisari dari Surat al-Baqarah yang kelak akan disempurnakan lagi oleh Surat-surat yang sebagai berikutnya, All Imran, an-Nisa dan seterusnya.

Ayat-ayatnya agak panjang, tidak ketat dan pendek seperti Surat-­surat Mekkah. Demikian umumnya Surat-surat Madinah, sebab ialah karena dia sudah banyak memperincikan hukum, apatah lagi karena telah bercampur dengan menghadapi orang Yahudi, yang bahasa Arab mereka tidak sefasih bahasa yang dipakai oleh orang Quraisy di Mekkah.